Tidak ada orang tua yang tidak menginginkan sang buah hati menjadi yang terbaik dalam setiap hal yang dilakukannya. Setidaknya, sang anak mampu menjadi yang terbaik dalam sesuatu yang memang menjadi passion-nya. Mulai dari berprestasi di akademik dengan senantiasa mendapat peringkat di sekolah hingga prestasi nonakademik seperti di bidang seni, olahraga, maupun beragam softskill lainnya.

Tentu saja, cita-cita ini tidak akan datang dengan sendirinya tanpa usaha yang benar-benar. Oleh sebab itu, sejak dini, orang tua harus mampu membantu anak menentukan pilihannya yang terbaik untuk masa depannya. Alih-alih memaksa, orang tua hanya sebatas fasilitator, pengawas, dan konselor. Dengan demikian, selain kepercayaan diri yang mulai terpupuk, rasa tanggung jawab juga akan ikut berkembang.

Belajar di Sekolah Saja Tidak Cukup

Sebagian orang menganggap bahwa belajar di sekolah saja sudah cukup. Terutama bagi anak-anak usia SD yang sudah harus mengikuti sekolah dengan sistem full day, sepulang sekolah anak-anak hanya tinggal beristirahat. Hal ini disebakan oleh asumsi jika masih harus ditambah lagi dengan berbagai kegiatan di luar sekolah, bisa-bisa anak menjadi stres.

Pernyataan ini tentu tidak sepenuhnya salah. Melihat anak usia dini yang harus berangkat ke sekolah pagi-pagi dan baru pulang ke rumah saat sore tentu membuat perasaan menjadi iba. Jika harus memaksakan anak mengikuti keinginan orang tua untuk mengikuti kegiatan tambahan—les pelajaran, les musik, klub olahraga, dan lain-lain—tanpa diikuti kehendak mereka, tentu baik anak maupun orang tua akan sama-sama rugi.

Karena itu, berdiskusi dengan anak tentulah penting. Tidak seperti zaman dahulu dengan komunikasi yang cenderung hanya satu arah, kini pendekatan terhadap anak memiliki metode lain yang lebih efektif. Komunikasikan dengan anak mengenai hari-harinya di sekolah, kegiatan apa saja yang menyenangkannya, hal apa yang menjadi hambatannya, dan lain-lain.

Jangan terburu-buru untuk mengikutkan anak pada program les tambahan yang Anda agendakan. Bicarakan hal ini baik-baik dengan sang buah hati. Siapa tahu, anak memang butuh tambahan karena kemampuan beradaptasi dan menangkap materi di sekolah yang berbeda setiap individu. Meski telah berjam-jam berada di sekolah, bukan lantas berarti anak benar-benar memahami apa yang disampaikan.

Bahkan kenyataannya, tidak sedikit anak yang justru tidak memahami apa yang disampaikan oleh guru. Bisa jadi karena konsentrasi yang berkurang lantaran suasana kelas terlalu ramai, enggan bertanya mengenai hal yang belum dimengerti karena malu, pikiran sudah lelah atau mengantuk, dan lain-lain.

Jika memang mengikuti les tambahan menjadi kebutuhan anak, maka sesuaikan kondisi. Atur jadwal kursus dengan jadwal kegiatan anak. Dengan demikian, anak tidak akan merasa berat dan seolah-olah terpaksa melakukannya.